Koresponden: Ir Sihana Yuliarto, Ketua DPD IPeKB DIY, PKB Tanjungsari, Gunungkidul

Nofrijal, SP, MA

Sebagai bentuk upaya BKKBN Pusat untuk menerapkan sosialisasi program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (Bangga Kencana) dengan memanfaatkan media sosial, maka pada hari Rabu 06 Mei 2020 telah diadakan Virtual Meeting dengan menggunakan Webex Meeting.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk workshop tersebut mengambil tema, ‘Penetrasi Penggunaan Multi Media dalam Rebranding BKKBN’.

Kegiatan semakin menarik karena menampilkan  2 keynote speaker yang sangat kompeten di bidangnya, yaitu:

1. H Nofrijal, SP, MA, Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi BKKBN
2. Atiek Nur Wahyuni, Presiden Direktur Trans TV-Trans 7

Tepat jam 09.00 penyampaian materi dimulai, di mana H Nofrijal mendapat kesempatan yang pertama menyampaikan materi.B eliau mengangkat tema, ‘Pemanfaatan Multi Media dalam Pemasaran Sosial Re-Branding BKKBN’.

Dalam awal materinya, Pak Nof, demikian biasa dipanggil, menyampaikan tentang kebijakan dan strategi Advokasi dan KIE Program Banggakencana yang diharapkan dapat mengubah perilaku masyarakat terhadap program Banggakencana.

Hal tersebut, kata Pak Nof, dapat dilakukan melalui advokasi, promosi, KIE serta penyuluhan oleh petugas lini lapangan dengan mamanfaatkan media yang ada, antara lain Facebook, Instagram, Twitter, juga dapat memanfaatkan pertemuan strategis yang ada.

KB dan Kesehatan reproduksi tetap menjadi fokus utama dalam penggarapan program, yang tujuan akhirnya diharapkan pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dan penyiapan berkeluarga semakin membaik serta dapat meningkatkan peran dan fungsi keluarga dalam pengasuhan anak dan perawatan lanjut usia.

Disampaikan juga oleh Pak Nof tentang kerangka logis strategi komunikasi dan advokasi kependudukan dan keluarga berencana, yakni antara lain:

1. Media Sosial
Memberikan informasi mengenai KB dan mendorong terjadinya diskusi terkait perencanaan keluarga di setiap tahapan kehidupan. Sehingga topik ini menjadi bagian dari gaya hidup.

2. Aplikasi Mobile
Membentuk keluarga dalam merencanakan keluarga yang berisikan informasi mengenai KB, materi konseling pribadi, kalender pengingat dan simulasi perencanaan kehidupan.

3. Media Massa 
Memberikan pesan dalam promosi KB serta menjadi saluran komunikasi untuk advokasi (artikel, liputan, siaran).

4. Komunitas
Tokoh masyarakat, agama, tetangga dan mitra sebagai pendukung terdekat mempromosikan dan menganjurkan KB. Memberikan peneguhan melalui nilai/norma serta testimoni manfaat KB dengan memanfaatkan saluran komunikasi masyarakat dan alat bantu.

5. Materi KIE, Kader dan PLKB
Sebagai alat bantu dalam melakukan konseling KB dan mempromosikan KB Pasca Salin di masyarakat (poster, brosur, billboard).

6. Perangkat dan Materi bagi Petugas Kesehatan
Terdiri dari materi KIE, alat bantu tenaga kesehatan dalam melakukan konseling KB pasca salin di fasilitas layanan kesehatan.

7. Kegiatan dan Materi Advokasi
Melalui kelompok kerja advokasi di tingkat nasional, propinsi dan kabupaten berdasarkan analisa situasi yang dituangkan dalam stratregi advokasi agar program KB mendapat dukungan SDM, anggaran dan lain-lain, serta memastikan tidak ada hambatan kebijakan.

***

Materi kedua disampaikan oleh Atik Nur Wahyuni, di mana beliau mengangkat tema, Talk With The Same Language as Millenials.

Mengawali materinya, Atik menyampaiakan ternyata selain media sosial, konsumsi media konvensional pada generasi millennial masih sangat tinggi, di mana penetrasi televisi adalah yang tertinggi, yakni 89%.

Secara lengkap konsumsi media millenials adalah sbb:

1. Radio 24%
2. Koran 27%
3. Video Online 46%
4. Televisi 89%

Informasi yang sangat menarik juga sempat disampaikan oleh ATik, yaitu tentang 7 tipe millenials, al:

1. The Adventurer
Outgoing, enerjik dan senang mengeksplore hal baru. Tipe ini memiliki segudang ide dan sangat vocal mengutarakan ide-ide mereka. Selalu mengutamakan kreativitas dan kebebasan. Sebagai konsumen, tipe ini cenderung mengkonsumsi produk yang menonjolkan image sosial dan produk fungsional.

2. The Visionary
Tipe Visionary cenderung merupakan pekerja yang berprestasi yang haus akan informasi dan pengetahuan baru. Sangat toleran dalam pandangan politik maupun agama. Sebagai konsumen, tipe ini cenderung memilih mengonsumsi medium yang dapat memberikan mereka informasi dan produk fungsional.

3. The Artist
Penuh ide, punya perspektif out of the box dan kemampuan estetika yang tinggi. Tipe artist merupakan orang-orang spontan yang senang bereksperimen serta mencari sudut pandang baru. Cenderung menyukai situasi non formal. Sebagai konsumen tipe ini mengonsumsi produk yang memiliki value yang tinggi dengan story kuat dibaliknya.

4. The Leaders
Karismatik, goal-oriented, dan kemampuan leadership di atas rata-rata. Menghargai kejujuran dan dedikasi, para leaders tidak ragu untuk memimpin kelompoknya melalui rintangan tersulit. Memiliki opini yang kuat terhadap politik dan agama. Sebagai konsumen, tipe ini cenderung mencari produk yang meningkatkan produktifitas dan memberikan informasi.

5. The Socializer
Menyenangkan, supel, dan senang memulai pembicaraan. Sangat cocok bekerja dalam tim terstruktur. Cenderung tidak terbuka dalam mengutarakan pandangan politik dan agama. Sebagai konsumen, tipe ini cenderung mengonsumsi produk yang menawarkan reward dan produk dengan nilai nostalgia tinggi.

6. The Corservative
Dapat diandalkan, humble dan sederhana. Tipe ini tidak basa-basi dan bekerja berdasarkan fakta. Sangat sigap dalam segala situasi dan mengharapkan orang lain memiliki kesigapan yang sama. Sangat vokal dalam menyarakan pendapat politik dan agama. Cenderung mengonsumsi produk yang efisien dan memiliki price to value tinggi.

7. The Collaborator
Memiliki toleransi yang tinggi, penuh ide dan senang membentuk tim. Tipe ini cenderung bergerak dengan kreatifitas, imajinasi, serta memilki usaha untuk menciptakan balance dalam kelompok. Tidak terlalu vocal dalam menyuarakan pandangan politik. Sebagai konsumen cenderung mengonsumsi produk yang menonjolkan image sosial, dan produk yang dapat mewadahi aktifitas sosial.

Dengan adanya 7 tipe mellinials, maka sangat diperlukan teknik komunikasi yang tepat, sehingga informasi yang diberikan bisa diterima secara baik oleh generasi millenials.

Harapannya generasi millenials yang jumlahnya sekitar 35% dari penduduk Indonesia dapat ikut mendukung suksesnya Program Banggakencana.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *