Oleh: Ir Sihana Yuliarto
(PKB Tanjungsari dan Ketua DPD IPeKB DIY)
Mewujudkan Indonesia menjadi negara yang maju di masa depan, merupakan tanggung jawab semua penduduk. Langkah-langkah yang tepat dari pemerintah dan stakeholder yang berkompenten di bidangnya masing-masing sangat diperlukan.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar.

Berdasarkan survey penduduk antar sensus (Supas) 2015 jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2019 diproyeksikan mencapai 266,91 juta jiwa.  Dengan jumlah penduduk yang demikian besar,  Indonesia bisa mendapatkan manfaat yang besar pula, tetapi sebaliknya angka penduduk yang besar ini apabila tidak dimbangi terwujudnya SDM yang unggul justru bisa menjadi masalah.

Masalah yang dapat ditimbulkan dari jumlah penduduk yang besar, khususnya dalam hal sosial-ekonomi  antara lain:
1. Upaya penyediaan kebutuhan hidup penduduk secara layak, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan serta fasilitas sosial lain yang harus lebih besar.
2. Persaingan dunia kerja yang ketat, sehingga lapangan kerja lebih sempit, artinya penyediaan lapangan kerja harus lebih luas.
3. Penyediaan jaminan keamanan, ketentraman serta kesejahteraan yang harus tinggi.
4. Kebutuhan akan berbagai fasilitas sosial meningkat.
5. Angka pengangguran meningkat, terutama bagi mereka yang tidak mampu bersaing dalam dunia kerja.
6. Angka kriminalitas yang meningkat.

Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan kependudukan tersebut di atas, sangat dibutuhkan kepedulian dan kerja nyata dari segenap stakeholder lembaga-lembaga, departemen yang berkompeten, untuk ikut berperan dalam upaya mewujudkan Indonesia kedepan menjadi negara maju, dengan langkah pertama yang harus ditempuh adalah meningkatkan kualitas penduduk.

Untuk meningkatkan kualitas penduduk, peran keluarga adalah utama. Sehingga dalam hal ini perencanaan berkeluarga menjadi penting, karena dari keluarga akan muncul generasi-generasi kedepan yang berkualitas mampu berperan dalam pembangunan, dan menjadi aset pembangunan.

Kampung KB
Melalui Kampung KB, BKKBN berupaya untuk ikut berperan dalam mengatasi permasalahan penduduk, khususnya upaya meningkatkan kualitas penduduk.

Kampung KB merupakan program unggulan BKKBN  saat ini dalam mengimplementasikan NAWACITA, dengan merujuk pada agenda:
1. Prioritas ketiga, yaitu membengun Indonesia dari pinggirandalam memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka NKRI
2. Prioritas kelima, yaitu meningkatkan kualitas hidup menusia Indonesia.
3. Prioritas kedelapanyaitu melakukan revolusi karakter bangsa.

Secara umum tujuan dari Kampung KB adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat kampung, atau yang setara melalui program KKBPK serta pembangunan sektor terkait dalam rangka mewujudkan keluarga kecil berkualitas dengan semangat gotong-royong dan kemadirian.

Sedangkan tujuan khusus dari dibentuknya Kampung KB adalah salah satunya meningkatkan ketahanan keluarga melalui program BKB, BKR, BKL, PIK Remaja.

Urgensi Ketahanan Keluarga 
Ketahanan keluarga adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik meteriil dan psikis mental spiritual, guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.

Dalam upaya membentuk SDM yang unggul di masa depan, peran keluarga adalah utama. Mewujudkan keluarga yang mempunyai ketahanan adalah langkah awal yang harus dilakukan. Dengan munculnya Perda DIY No  07 tahun 2018 tentang Pembangunan Ketahanan Keluarga, ini merupakan bentuk komitmen dari Propinsi DIY dalam upaya mewujudkan generasi yang unggul di masa depan melalui Pembangunan Ketahanan Keluarga.

Dalam Perda tersebut disebutkan bahwa, dalam membentuk ketahanan keluarga dapat dilakukan melaui 2 tapanan besar yaitu:

1. Pra Pernikahan
Pada tahap ini difokuskan peda masa perkembangan sejak anak-anak hingga dewasa. Implementasinya adalah memberikan bekal yang cukup bagi individu calon pasangan yang akan segera melangsungkan pernikahan, dengan tujuan agar memiliki pemahaman akan keluarga, kecintaan kepada keluarga, dan juga penyiapan dalam berkeluarga.

2. Pasca Pernikahan
Pada tahap ini, usaha difokuskan pada pasangan di awal menikah, pada saat memasuki kehamilan, memililki anak usia dini, saat memilki anak usia remaja, hingga saat usia tua. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar pasangan memiliki bekal yang memadai dalam pengasuhan anak pada masa bayi, usia dini, usia sekolah, remaja, dewasa, serta kesiapan berkeluarga dan kehilangan pasangan hidup.

Arah yang dituju dalam ketahanan keluarga adalah membentuk keluarga tangguh yang mampu menjalankan fungsi keluarga dengan baik, yang meliputi:
1. Fungsi Keagamaan,
2. Fungsi Sosial Budaya,
3. Fungsi Cinta Kasih,
4. Fungsi Perlindungan,
5. Fungsi Reproduksi,
6. Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan,
7. Fungsi Ekonomi,
8. Dan Fungsi Lingkungan,

Wujud nyata program dari BKKBN dalam upaya mewujudkan SDM unggul di masa yang akan datang adalah pembentukan kelompok-kelompok kegiatan yang tujuannya dapat meningkatkan ketahanan keluarga. Kelompok-kelompok kegiatan tersebut antara lain, Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Bina Keluarga Lansia (BKL). Tujuan dari kelompok-kelompok kegiatan tersebut muaranya sama, yaitu membentuk sumber daya manusia yang unggul di masa yang akan datang. Sebagai sasaran kelompok kegiatan tersebut adalah keluarga yang mempunyai anak usia balita, keluarga yang mempunyai anak usia remaja, dan keluarga yang mempunyai anak usia remaja.

Guna lebih mengoptimalkan kegiatan dalam upaya membentuk SDM yang unggul, maka kegiatan tersebut diintegrasikan dengan kegiatan lain. Untuk BKB dengan Posyandu dan PAUD, untuk BKR dengan PIK Remaja/Mahasiswa, sedangkan BKL dengan kegiatan Yandu Lansia.

Banyak materi dalam kegiatan BKB yang mendukung terwujudnya SDM yang unggul di masa yang akan datang, yang berupa modul penyuluhan BKB Holistik Integratif yang dibagi menjadi 13 pertemuan:
1. Perencanaan Hidup Berkeluarga dan Harapan Orangtua terhadap Masa Depan Anak;
2. Memahami Konsep Diri yang Positif dan Konsep Pengasuhan;
3. Peran Orangtua dan Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan;
4. Menjaga Kesehatan Anak Usia Dini;
5. Pemenuhan Gizi Anak Usia Dini;
6. Pembiasaan PHBS;
7. Stimulasi Perkembangan Gerakan Kasar dan Gerakan Halus;
8. Stimulasi Perkembangan Komunikasi Aktif, Komunikasi Pasif, dan Kecerdasan;
9. Stimulasi Perkembangan Kemampuan menolong Diri Sendiri dan Tingkah Laku Sosial;
10. Pengenalan Kesehatan Reproduksi pada Anak Usia Dini;
11. Perlindungan dan Partisipasi Anak;
12. Menjaga Anak dari Pengarus Media, dan
13. Pembentukan Karakter Anak Usia Dini.

Sedang untuk kelompok BKR, materi-materi yang mendukung terwujudnya generasi unggul dimasa depan antara lain program Generasi Berencana (Genre), yang merupakan materi yang disampaikan pada kegiatan BKR dalam rangka mewujudkan Tegar Remaja, yaitu remaja yang berperilaku sehat, terhindar dari risiko Triad KRR (tiga ancaman yang dihadapi oleh remaja, yaitu nikah dini, seks bebas, dan Napza), mempunyai perencanaan kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera, serta menjadi contoh, model, idola dan sumber informasi bagi teman sebayanya. Program Genre diarahkan untuk PIK Remaja/Mahasiswa dan BKR yang sasarannya keluarga yang mempunyai anak usia remaja.

Kegiatan BKR yang beranggotakan keluarga yang memiliki anak usia remaja bertujuan meningkatkan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan orangtua dan anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang remaja.

Tujuan dari kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) adalah mewujudkan lansia tangguh, yaitu lansia yang sehat secara fisik, sosial, dan mental, sehingga terwujud lansia yang mandiri, aktif dan produktif.

Mewujudkan lansia tangguh dilakukan melalui 7 dimensi lansia tangguh :
1. Pembangunan keluarga lansia tangguh dimensi spirituial;
2. Pembangunan keluarga lansia tangguh dimensi intelektual;
3. Pembangunan keluarga lansia tangguh dimensi fisik;
4. Pembangunan keluarga lansia tangguh dimensi emosional;
5. Pembangunan keluarga lansia tangguh dimensi sosial kemasyarakatan;
6. Pembangunan keluarga lansia tengguh dimensi professional vokasional, dan
7. Pembangunan keluarga lansia tangguh dimensi lingkungan.

Dengan penerapan Perda DIY Nomor 7 tahun 2018 tentang Pembangunan Ketahanan Keluarga serta aplikasinya dalam bentuk terbentuknya kelompok-kelompok kegiatan berupa kelompok BKB, BKR, BKL yang kegiatan dintegrasikan dengan kegiatan lain, harapannya generasi unggul di masa yang akan datang dapat terwujud.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *