Rabu (5/2) CoE BKL Manunggal Asih mengadakan pertemuan rutinan di Balai Dusun Tritis, Planjan, Saptosari yang dihadiri oleh anggota BKL CoE Manunggal Asih, kader BKL, dan PKB Kecamatan Saptosari.

Seperti biasa sebelum pertemuan dimulai, para lansia dikur berat badannya, diukur tensi darahnya dan tak lupa juga senam lansia yang dipimpin oleh kader BKL Manunggal Asih. Namun pertemuan kali ini tampak berbeda dikarenakan BKKBN DIY bekerjasama dengan IRL (Indonesia Ramah Lansia) menyelenggarakan sosialisasi Sekolah Lansia kepada anggota BKl Manunggal Asih.

Anggota BKl Manunggal Asih tampak antusias mendengarkan program yang disampaikan oleh dr Iin Nadzifah Hamid, Kabid KSPK, Dwi Endah, MPH, Direktur Indonesia Ramah Lansia dan Ir Lidwina Daru Andani.

Peserta Sekolah Lansia Menuju Lansia Tangguh menurut UU No 13 tahun 1998 yaitu lansia usia 60 ke atas, dengan kriteria sbb:
1. Lansia potensial lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan yang dapat menghasilkan barang/ jasa.
2. Lansia tidak potensial tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

Latar belakang Sekolah Lansia adalah sbb:
1. Proporsi lansia DIY paling banyak 13.04%. UHH meningkat 76/74 tahun.
2. Faktor risiko penyakit degeneratif, penurunan fungsi tubuh, emosi, kesepian.
3. Lansia harus SMART: Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, dan Bermartabat.
4. Perlu upaya pencegahan dan pembinaan non formal mengenai kesehatan, spiritual, sosial.

Pengertian Sekolah Lansia adalah pendidikan non formal sebagai upaya pemberian informasi, pelatihan tentang kesehatan,  keagamaan, sosial, budaya sehingga lansia dapat hidup bahagia sejahtera.

Tujuan Sekolah Lansia adalah sbb:
1. Meningkatkan pengetahuan dan perilaku lansia terhadap kesehatan
2. Meningkatkan kesehatan lansia dengan nilai spiritual sehingga husnul khatimah
3. Meningkatkan usia harapan hidup yang berkualitas dan berdaya guna
4. Meningkatkan kebahagiaan dan kemandirian lanjut usia

Visi Sekolah Lansia adalah Menjadi pendidik non formal dalam mewujudkan lanjut usia SMART (Sehat, MAndiri, Aktif, Produktif dan Bermartabat) yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan negara.

Misi Sekolah Lansia adalah:
1. Mengajarkan kesehatan dari segi fisik, psikologis, sosial dan spiritual
2. Melakukan pemberdayaan secara ekonomi untuk kemandirian lanjut usia
3. Melakukan kerjasama lintas program dan sectoral dalam mendukung kegiatan belajar mengajar

Syarat peserta didiknya adalah sbb:
1. Prioritas untuk lansia usia di atas 60 tahun pra-lansia 45-59 tahun (juga boleh)
2. Ada persetujuan dari keluarga maupun penanggungjawab dengan mengisi formulir pendaftaran
3. Peserta memiliki keinginan besar belajar dan pembinaan

Kontribusi dalam Sekolah Lansia di BKL memiliki tujuan, yakni posisi lansia tidak sebagai objek, tetapi subyek (dapat mejaga kesehatan, meningkat dari aspek spiritual, sosial dan mandiri), mereka dapat  menjadi duta senior bagi institusi BKL dan masyarakat.

Kurikulum Lansia Sehat, Bahagia, dan Mandiri berisi materi kelas dasar standar (S1), yakni sbb:
1. Konsep penuaan syndrome 14i
2. Gangguan psikologis pada lansia (cemas, stres, depresi, kesepian, dll)
3. Hipertensi dan ROP
4. DM dan senam koran
5. Gizi lansia
6. Peran lansia dalam pencegahan stunting 1 & 2
7. Kewirausahaan lansia
8. Dimensia/ Kepikunan
9. Spiritual dan terapi ibadah
10. 7 Dimensi lansia tanggung dan 8 fungsi keluarga
11. Pertolongan pertama pada kondisi darurat
12. Kesenian dan relaksasi otot progresif

Proses kegiatan belajar mengajarnya sbb:
1. Pemilihan ketua kelas
2. Ketua kelas memimpin doa
3. Ketua kelas memimpin yel-yel sekolah lansia
4. Absen oleh wali kelas, memberi informasi ketidak hadiran dan pengumuman
5. Pengajar memberikan pelajaran sesuai kurikulum
6. Sekolah selesai para peserta pulang dengan bahagia

Tujuan akhir dari Sekolah Lansia model komprehensif pengelolaan lansia di masyarakat adalah sbb:
1. SMART ELDERLY, singkatan dari: Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif dan Bermartabat
2. Peningkatan kualitas hidup lansia dari aspek kesehatan, ekonomi sosial, spiritual dan bermanfaat untuk  keluarga dan masyarakat
3. Peningkatan cakupan lansia yang mengikuti pendidikan informal (Sekolah Lansia) sesuai kurikulum

Acara ditutup dengan diskusi bersama mengenai program sekolah untuk lansia.(*)

[Ahmad Harwanto, SSos dan Ervina Budiati, PKB dan pramusaji Kecamatan Saptosari]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *