Kamis (23/01)  Kampung KB Wareng mengadakan pertemuan rutin yandu lansia

dan pembinaan BKL di Balai Dusun Wareng, Kepek, Saptosari yang dihadiri oleh kader BKL, anggota BKL Makmur Dusun Wareng, Kepala Dukuh padukuhan Wareng, UPT Puskesmas Saptosari, dan PKB Kecamatan Saptosari.

Acara tersebut dibuka dengan pemeriksaan lansia baik pengukuran tinggi badan lansia, pengukuran berat badan lansia, dan pengukuran tekanan darah lansia kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Suyanto selaku Kepala Dukuh Padukuhan Wareng. “Kelola stress sangat dibutuhkan oleh lansia” ujarnya. Lansia, menurutnya, cenderung memikirkan hal yang sebenarnya tak perlu dipikirkan, contohnya sudah masuk musim penghujan namun belum selesai menanam palawija sedangkan yang lain sudah selesa, maka hal tersebut dijadikan beban pikiran oleh lansia.

“Sebenarnya jika dapat mengelola stress lansia cenderung santai dan nrima dalam menjalani hidup. Jika stres sudah melanda lansia maka akan banyak penyakit yang menghampiri lansia tersebut,” katanya.

Acara dilanjutkan penyampaian materi oleh Patwara Wibawa, SE, MAP (Koordinator PKB Kecamatan Saptosari) dan Rustri (UPT Puskesmas Saptosari) yang mengajak lansia untuk berolahraga agar menjadikan tubuh tetap bugar dan segar. Salah satunya, menurut Pak Bowo, panggilan akrabnya, adalah melakukan senam lansia, dengan melakukan gerakan senam lansia badan akan menjadi segar, bugar dan selalu bersemangat.

Acara pembinaan selanjutnya dilakukan oleh Ahmad Harwanto, SSos dengan tema Lansia Tangguh Dimensi Intelektual. Otak adalah pusat berpikir, pusat pengendalian semua fungsi tubuh, serta pusat fungsi emosi. Dengan bertambahnya usia, kata Harwanto, itu dapat menimbulkan penurunan massa otak (menciut) karena pengurangan sel-sel saraf, sehingga lansia menjadi mudah lupa dan sulit mengingat sesuatu, gerak tubuh menjadi lambat, dan emosi sering menjadi labil. Kemampuan kerja otak sangat bergantung dari jumlah sel yang ada dan kekuatan jaringan yang menghubungkan sel-sel tersebut. Untuk melatih otak agar produktif, sel-sel harus diaktifkan dan sinaps diperkuat. Fungsi intelektual lansia seiring proses penuaan, kata Harwanto, diikuti oleh berbagai macam masalah, al:

1. Gangguan persepsi (mudah sedih, mudah marah, mudah tersinggung mengeluh)

2. Penurunan konsentrasi (sulit memusatkan pikiran)

3. Gangguan bahasan da komunikasi (lupa kosa kata dll)

4. Penurunan daya ingat (peristiwa, nama orang, meletakkan sesuatu dll)

Untuk mengatasi melambatnya kerja otak, maka diperlukan untuk terus menerus dalam melatih otak dan mengaktivasi kerja otak dengan berbagai macam aktivitas yang dapat memacu tumbuhnya/ terbentuknya sel-sel baru, serta memperkuat jaringan sinaps pada otak. Jenis-jenis aktivasi stimulasi otak, kata Harwanto, al:

1. Membaca, menulis, mengarang, asah otak/ TTS

2. Bercerita atau mendongeng kepada anak-anak balita

3. Membuat dan mewarnai gambar

4. Melakukan permainan-permainan (catur, halma, congklak, ular tangga dll)

5. Menyanyi, menari, bermain alat musik, dramas dll

6. Meningkatkan kualitas spiritual ikut perkumpulan mengaji, kegiatan di gereja dll

7. Berkebun, menjahit, menyulam

8. Senam otak (brain exercise)

Senam otak, ujar Harwanto, memiliki manfaat sangat baik,  di antaranya:

1. Gerakakannya yang menyilang dapat mengharmoniskan kinerja otak kiri dan otak kanan

2. Memperlancar aliran darah dan oksogen menuju otak

3. Mempengaruhi otak untuk bekerja maksimal

4. Memicu otak agar idak kehilangan daya intelektual, fungsi memori, kreatifitas, sekaligus meningkatkan kesehatan fisik

5. Mengurangi stres

6. Meningkatkan kepercayaan diri

Acara ditutup dengan diskusi bersama.(*) [Ahmad Harwanto, SSos dan Ervina Budiati, PKB dan Pramusaji Kecamatan Saptosari]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *