Workshop eksklusif untuk stakeholder pemerintah, “Membangun Keluarga Tangguh: dari Riset Menjadi Kebijakan,” diselenggarakan oleh Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan Center for Public Mental  Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta, berlangsung hari Kamis hingga Jum’at, 9-10 Januari 2020 mulai pukul 07.00-17.00 WIB. Tempatnya di Auditorium G-100, Fakultas Psikologi UGM. Acara ini dihadiri oleh berbagai pejabat setingkat Kepala Dinas, Kantor dan Biro di lingkungan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala SKPD KB dan yang terkait di tingkat kabupaten/kota, pejabat struktural di lingkungan Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta dan seluruh Koordinator Penyuluh Keluarga Berencana Kecamatan se-DI Yogyakarta.


Dalam kata sambutan pembukaan, Prof Dr  Faturochman, MA, Dekan Fakultas Psikologi UGM menyampaikan banyaknya riset yang telah dilakukan oleh lembaga yang ia pimpin baik dengan sasaran pada siswa, guru, maupun keluarga. Beliau ambil contoh penelitian kasus klithih yang hanya ada di Jogja. Klithih itu dilakukan oleh anak-anak remaja SMP, SMA yang normal, sehat, pintar dan tak ada unsur dendam terhadap si korban klitih. Klithih sebagai bentuk pelarian dari tidak jelasnya profil ayah tidak hadirnya peran ayah didalam pengasuhan anak di lingkungan keluarga. Beliau mengajak pada institusi BKKBN untuk lebih nyata dalam melibatkan peran ayah didalam pendidikan karakter remaja di keluarga. Dijelaskan bahwa sudah waktunya keberadaan keluarga bukan sekedar penting namun hal yang utama dalam pembangunan masyarakat dan negara yang tangguh.

Sementara Dr Bagus Riyono, MA menyampaikan topik, Problem Keluarga Indonesia dan Orientasi Pembangunan Keluarga (Perspektif Akademis). Menurut beliau sudah saatnya Keluarga harus menjadi  power didalam pengambilan kebijakan secara luas bagi Pemerintah. Kebijakan yang berpijak pada pembangunan keluarga akan menghasilkan  tumbuhnya generasi yang kuat, tangguh dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup yang muncul. Pemerintah (BKKBN), idealnya menjadi badan koordinasi yang memiliki kewenangan didalam pengambilan kebijakan yang konprehensip dengan basis support keluarga  yang berkualitas sebagai tujuan utama.

Sementara itu Dr Dr M Yani, MKes, PKK, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga menyampaikan paparan materi dari Kepala BKKBN  dr  Hasto Wardoyo, SpOG (K) tentang, Membangun Keluarga Indonesia Yang Tangguh. Beliau sampaikan perkembangan organisasi BKKBN di zaman milenial, di mana BKKBN telah dan sedang berproses mengubah rebranding program Keluarga Berencana sesuai dengan era milenial. Misalnya perubahan logo BKKBN yang  ditulis dengan huruf kecil dimaksudkan agar  punya makna kekinian. Bentuk angka 8 mempunyai makna kontinuitas dan komprehensif dalam membangun keluarga. Warna biru yang fleksibel di dalam logo melambangkan organisasi BKKBN. Beliau menjelaskan bahwa BKKBN kini telah memiliki Indek Pembangunan Keluarga (IPK) yang terdiri dari 3 dimensi (ketentraman, kemandirian, dan kebahagiaan), yang tersusun dari 11 indikator. Dengan demikian BKKBN fokus pada penggarapan pembentukan keluarga berkualitas, sedangkan program KB sebagai hal yang kedua.

Dr  Sumaryono, MSi, Psikolog, Sekretaris Program Studi Magister Psikologi UGM, menyampaikan, “Merawat Akad”, sebagai sarana untuk  mengembangakan ketahanan keluarga ala PIO. Menurutnya ketahanan  suatu keluarga terbentuk bila mana ada komitmen yang kuat dengan disertai kontribusi yang obtimal dari seluruh anggota keluarga. Keluarga sebagai open system diibaratkan sebagai organisasi yang membutuhkan input, proses dan output dengan keluaran generasi yang lebih baik. Beliau berharap agar BKKBN mempelopori adanya Gerakan Merawat Akad (Nikah) dalam upaya mengembangkan ketahanan keluarga.

Pada sesi terakhir, disampaikan tentang Developing Strong Families oleh Silvia Asay, PhD, CFLE, seorang peneliti keluarga di berbagai negara. Beliau sampaikan hasil penelitiannya yang sudah lebih dari 20 tahun, bahwa keluarga itu ada berbagai ragam bentuknya dan menjadi basis dari kekuatan suatu masyarakat. Setiap keluarga memiliki kekuatan yang potensial dan tantangan yang berbeda. Keluarga memiliki ketahanan yang baik bila didalmnya ada komitmen bersama, rasa cinta kasih, komunikasi yang positif, waktu yang menyenangkan bersama, memiliki kemampuan beradaptasi terhadap stres, dan dilaksanakannya kehidupan spiritual. Ketahan keluarga merupakan hasil dari perpaduan antara family strong, culture strong dan comunity strong. Pada sesi terakhir dihari pertama ini beliau berikan tugas pada peserta untuk menilai peran serta stakeholder masing-masing dalam pembentukan ketahanan keluarga, apakah dalam kategori family life education, respons terapi keluarga, atau pada posisi respons manajemen kasus keluarga.(*) [Yogyakarta, 9 Januari 2020, Drs Edy Pranoto, PKB Playen]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *