Selasa (10/12) Kampung KB Tekik mengadakan pembinaan BKL (Bina Keluarga Lansia), Posyandu Lansia, dan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan menganyam dari bambu. Acara tersebut di selenggarakan di Balai Dusun Tekik, Ngloro, Saptosari dengan dihadiri oleh anggota BKL, Kepala Dukuh  Tekik, UPK Kecamatan Saptosari dan PKB Kecamatan Saptosari.

Acara tersebut diawali dengan pengukuran berat badan lansia, pengukuran tekanan darah lansia, dan tinggi badan lansia oleh kader BKL Kampung KB Tekik. Sebelum melakukan pelatihan menganyam lansia diajak untuk senam lansia bersama agar kebugaran badan tetap terjaga. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari PKB Kecamatan Saptosari, Umi Yunastuti, SE selaku pembina wilayah. Beliau mengungkapkan bahwasannya pertemuan BKL ini sangat dinanti-nanti oleh para lansia anggota BKL Harapan, Tekik, Ngloro. Karena dengan kegiatan ini para lansia dapat meluapkan ekspresi dan mengurangi resiko stres dan resiko tertekan akibat jarang berinteraksi dengan masyarakat banyak. Dengan kegiatan ini para lansia merasa senang dan fresh, dapat berinteraksi dengan sesma lansia, dapat melakukan peregangan bersama sehingga menciptakan rasa bahagia untuk semua.

Kemudian kegiatan disambung oleh Mujiyono, SPdI dari UPK Kecamatan Saptosari untuk memberikan pelatihan menganyam dari bambu. Beliau mengungkapkan bahwasanya lansia pun masih bisa berlaku produktif dengan melakukan berbagai cara, tidak harus dengan bekerja bertani yang mencangkul di sawah ataupun bekerja berat. Namun masih banyak cara untuk lansia dapat melakukan kegiatan produktif salah satunya dengan menganyam dari bahan bambu.

Kegiatan ini tidak terlalu sulit untuk dilakukan oleh lansia, selain untuk menambah penghasilan juga dapat melatih otak lansia untuk selalu berfikir dan fokus agar tidak mudah pikun. Pikun merupakan suatu kondisi yang cukup memprihatinkan, yang biasanya terjadi pada orang tua lansia. Sungguh tidak mengenakkan bagi yang mengalaminya dan walaupun mungkin tidak menjadi masalah bagi keluarga yang merawatnya, tentunya kita tidak menginginkan hal tersebut terjadi pada diri kita, tidak mau merepotkan keluarga kita nantinya. 

Pikun bukanlah proses normal dari penuaan, dapat dialami siapa saja dan dari berbagai usia, namun orang tua lansia memang lebih rentan mengalaminya. Tahun 2005, terdapat 24,3 juta orang yang mengalami pikun di seluruh dunia, tahun 2010 jumlahnya meningkat menjadi 35,6 juta. Pikun bukanlah penyakit spesifik, istilah ini merupakan istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok gejala (symptoms) yang terdiri dari:

1. Daya ingat dan kemampuan komunikasi atau bahasa yang menurun drastis.
2. Gangguan dalam menilai dan berargumen.
3. Disorientasi dan perubahan tingkah laku.
4. Gangguan dalam persepsi visual.
5. Mengalami kesulitan untuk fokus dan memberikan perhatian.

Maka dari itu otak perlu dilatih terus menerus untuk dapat selalu berfikir, dengan melakukan kegaiatan-kegiatan yang memerlukan kefokusan salah satunya dengan melakukan menganyam.

Bahan untuk menganyam adalah:

1. Bambu yang masih basah (bukan mabu kering) yang sudah di serut (sudah dipisahkan antara kulit dan daging bambu).
2. Palu kecil

Cara menganyam:

1. Siapkan 2 helai potongan bambu, satu bambu menghadap ke dading dan yang satunya lagi menghadap ke kulit.
2. Kemudian siapkan sumbu anyaman berupa satu helai potongan bambu yang panjang. Sumbu satunya sebaiknya menggunakan ukuran zig-zag, hal ini akan lebih mempermudah kamu dalam menganyam bambu.
3. Buatlah sebuah sudut anyaman dengan cara menyilangkan kembali anyaman loka sebaliknya. Kemudian lipat itisan bambu agar sejajar dengan bagian sumbu bagian tengah.
4. Untuk hitungan pada anyaman sebaiknya menggunakan hitungan 1-3-1. Hitungan anyaman ini merupakan hitungan yang paling sederhana dalam membuat anyaman bambu.

Acara ditutup dengan diskusi bersama.(*) [Ahmad Harwanto, SSos dan Ervina Budiati PKB dan Pramusaji Kec. Saptosari]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *