Rabu (4/12) Kampung KB Wareng mengadakan pembinaan peningkatan kapasitas Kampung KB Wareng di Balai Dusun Wareng, Kepek, Saptosari. Acara tersebut dihadiri oleh Pokja Kampung KB, Ketua RT, Ketua RW, Kader BKB, BKR dan BKL serta PKB Kecamatan Saptosari.

Kampung KB Wareng menghadirkan UPT Puskesmas Saptosari sebagai narasumber. Acara tersebut dibuka oleh Koordinator PKB Kecamatan Saptosari Patwara Wibawa, SE, MAP. Beliau menyampaikan himbauan kepada masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kegotong-royongan antar warga khususnya di Dusun Wareng. Kemudian beliau juga berpesan kepada masyarakat untuk selalu meningkatkan ketahanan keluarga terutama yang memiliki lansia, karena belum lama ini ada kabar bahwasanya lansia di Kecamatan Panggang meninggal akibat gantung diri. Maka dari itu disarankan masyarakat Wareng, khususnya, bisa mendampingi lansia agar lansia tidak mudah stres dan depresi akibat tekanan pikiran yang kadang menyiksa para lansia.

Kemudian acara tersebut disambung pemateri dari UPT Puskesmas Saptosari yaitu Imas Agustin Itsnaini, SKM, Tri Agustina, SKM, dan Sumarhaeni, SKep Nes. Mereka memaparkan materi mengenai Dusun Siaga. Dusun Siaga adalah wadah di mana masyarakat melakukan kegiatan seperti Posyandu balita, Posyandu lansia, pertemuan konseling remaja, pertemuan PKK, ditambah juga dengan rapat BKR, BKL, BKB, dan lain sebagainya. Konsep dusun siaga adalah membangun suatu sistem di suatu desa yang bertanggung jawab memelihara kesehatan masyarakat itu sendiri, di bawah bimbingan dan interaksi dengan seorang bidan dan 2 orang kader desa. Di samping itu, juga dilibatkan berbagai pengurus dusun untuk mendorong peran serta masyarakat dalam program kesehatan seperti imunisasi dan posyandu. Kegiatan pokok dusun siaga meliputi al:

1. Surveilans dan pemetaan: Setiap ada masalah kesehatan di rumah tangga akan dicatat dalam kartu sehat keluarga. Selanjutnya, semua informasi tersebut akan direkapitulasi dalam sebuah peta dusun (spasial) dan peta tersebut dipaparkan di poskesdes.

2. Perencanaan partisipatif: Perencanaan partisipatif di laksanakan melalui survei mawas diri (SMD) dan musyawarah masyarakat desa (MMD). Melalui SMD, dusun siaga menentukan prioritas masalah. Selanjutnya, melalui MMD, dusun siaga menentukan target dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai target tersebut. Selanjutnya dusun melakukan penyusunan anggaran.

3. Mobilisasi sumber daya masyarakat: Melalui forum dusun siaga, masyarakat dihimbau memberikan kontribusi dana sesuai dengan kemampuannya. Dana yang terkumpul bisa dipergunakan sebagai tambahan biaya operasional Poskesdes. Dusun siaga juga bisa mengembangkan kegiatan peningkatan pendapatan, misalnya dengan koperasi desa. Mobilisasi sumber daya masyarakat sangat penting agar dusun siaga berkelanjutan (sustainable).

4. Kegiatan khusus: Dusun Siaga dapat mengembangkan kegiatan khusus yang efektif mengatasi masalah kesehatan yang diprioritaskan. Dasar penentuan kegiatan tersebut adalah pedoman standar yang sudah ada untuk program tertentu, seperti malaria, TBC, dan lain-lain. Dalam mengembangkan kegiatan khusus ini, pengurus dusun siaga dibantu oleh fasilitator dan pihak Puskesmas.

5. Monitoring kinerja: Monitoring menggunakan peta rumah tangga sebagai bagian dari surveilans rutin. Setiap rumah tangga akan diberi Kartu Kesehatan Keluarga untuk diisi sesuai dengan keadaan dalam keluarga tersebut. Kemudian pengurus dusun siaga atau kader secara berkala mengumpulkan data dari Kartu Kesehatan Keluarga untuk dimasukkan dalam peta dusun.

6. Manajemen keuangan: Dusun Siaga akan mendapat dana hibah (block grant) setiap tahun dari DHS-2 guna mendukung kegiatannya. Besarnya sesuai dengan proposal yang diajukan dan proposal tersebut sebelumnya sudah di-review oleh Dewan Kesehatan Desa, kepala desa, fasilitator dan Puskesmas. Untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas, penggunaan dana tersebut harus dicatat dan dilaporkan sesuai dengan pedoman yang ada.

Pemateri selanjutnya adalah dari PKB Kecamatan Saptosari, Ahmad Harwanto, SSos, selaku pembina wilayah. Beliau memaparkan mengenai RDK, bahwasanya RDK atau Rumah Data Kependudukan sebagai model dan solusi strategis penanganan permasalahan/dampak kependudukan di Kampung KB. Ruang lingkup data yang ada di RDK antaralain:

1. Data Keluarga (Data demografi, Data KB, Data KS)

2. Data Potensi Desa (Potensi ekonomi, Potensi jalan, Potensi wisata, Potensi pertanian)

3. Data Sektoral (Kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, pertanian, lingkungan)

4. Data aktivitas kampung KB (aktivitas Poktan Tribina, data intervensi Kampung KB)

5. Data administrasi kependudukan (data kepemilikan identitas KTP/Akte/Surat Nikah, data kelahiran, kematian, migrasi TKW/TKI)

“Kemudian Kampung KB Wareng diharapkan nantinya memiliki ruang untuk Rumah Data yang dikelola oleh Pokja Kampung KB, di-update secara berkala mengenai informasi data yang didapat dari para kader Pokja Kampung KB. Pada tanggal 12 Desember 2019 silam telah dilaksanakan studi banding atau  kaji banding di Kampung KB Bareng, Tanjungsari, untuk mengetahui bagaimana keadaan Kampung KB di Bareng kemudian kita analisa apa kekurangan kita apa yang sudah berjalan pada kegiatan kita. Kita dapat mengevaluasi dan mengkoreksi keadaan Kampung KB kita, sehingga kita dapat meningkatkan kualitas Kampung KB Wareng, Kepek, Saptosari,” pungkas Harwanto.

Acara ditutup dengan diskusi bersama.(*)


(Ahmad Harwanto & Ervina Budiati, PKB & Pramusaji BPKB Saptosari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *