Hj Sudarmi lahir pada tanggal 10 Agustus 1948 dari seorang ibu yang bernama Jariyah dan Ayah bernama Ngatmorejo yang bekerja sebagai seorang petani di Dusun Putat II Desa Putat Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul. Pendidikan formal diawali dari SR Sidomulyo masuk pada tahun 1954 dan berhasil diselesaikan 1959. Ketika masih berstatus siswa sekolah, Sudarmi masih dalam kondisi memprihatinkan, tidak bersepatu dan tidak ada sarana lengkap seperti gambaran anak-anak sekarang. Meskipun dalam situasi yang serba terbatas dan kekurangan, ia tetap semangat melanjutkan sekolah ke jenjang SLTP pada tahun 1964, kemudian melanjutkan ke SPG lulus tahun 1967. Setelah menamatkan SPG melamar pekerjaan sebagai guru dan alhamdulillah diangkat sebagaimana keinginannya, yakni menjadi guru SDN Sidomulyo (tempat di mana dia sekolah SR). Sementara itu, sejak tanggal 1 Februari 1968 yang secara kebetulan lokasi SD itu masih menggunakan fasilitas rumah ayah sudarmi sendiri, karena belum mempunyai bangunan sekolah. 

Suaminya, H Mudjija lahir dari keluarga petani di Desa Putat Kecamatan Patuk Gunungkidul pada tanggal 14 November 1947. “Dikarenakan ayah meninggal dunia sebelum saya berumur satu tahun, saya dibawa ibu kembali ke rumah kakek yang berprofesi sebagai modin/rois agama di Desa Beji Patuk. Di dalam lingkungan baru tersebut saya banyak dibimbing belajar agama dari kakek. Pendidikan formal diawali di SR Bunder II Kecamatan Patuk tahun 1955-1960, melanjutkan ke SMPN Wonosari tahun 1960-1963, dan melanjutkan ke SPGN Wonosari tahun 1964-1967. Semua jenjang pendidikan saya lalui dalam keadaan penuh keterbatasan, kekurangan dan keprihatinan. Namun alhamdulillah dengan semangat dan ketekunan belajar yang tanpa henti, semua dapat berjalan dengan lancar bahkan selalu mendapatkan peringkat juara dalam kelulusan,” kata Mudjija.


Setelah menamatkan dari SPG, lanjutnya, Mudjija kemudian melamar pekerjaan sebagai guru. Alhamdulillah terhitung mulai tanggal 1 April 1968 telah menerima SK penugasan sebagai Guru SD Sidomulyo, sambil mengajar di sekolah swasta yakni di SMP Usaha Tama Beji, Patuk, dan PGA Muhammadiyah Plosokerep, Desa Bunder Kecamatan Patuk. “Disela-sela kegiatan mengajar, saya melanjutkan belajar di IKIP Muhammadiyah Yogyakarta mulai tahun 1981-1984 lulus Sarjana Muda (BA), kemudian pada tahun 1984-1986 alhamdulillah telah berhasil menamatkan jenjang sarjana di almamater yang sama,” kisahnya.

Kehidupan Rumah Tangga 
Pada tanggal 26 Jumadil Akhir 1394 H bertepatan dengan 16 Juli 1974 M jam 07.00 awal mula dibangunnya ikatan perjanjian suci antara Mudjija Sudarmi untuk bersama-sama mambagun mahligai kehidupan rumah tangga yang bertempat tinggal di sebuah Dusun Putat II Desa Putat Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul.

Pada saat menikah, pekerjaan suami/isteri telah berstatus sebagai guru SD. Buah cinta dari pernikahan itu telah lahir 2 anak, yang terdiri 1 putra dan 1 putri. Anak pertama bernama Sigit Nugroho, SE, dilahirkan pada tanggal 12 Mei 1975 dan yang kedua Ratri Nurhidayati, SPd, lahir pada tanggal 8 Agustus 1984.

“Sejak kami membina kehidupan rumah tangga konsep catur warga dengan 2 anak cukup sudah menjadi komitmen bersama. Dengan memiliki 2 anak hal ini sekaligus merupakan salah satu kepedulian kami untuk mendukung program pemerintah dalam pengendalian kependudukan khususnya melalui program KB,” kata Sudarmi.

Selama perjalanan kehidupan rumah tangga, disamping dengan tekun dan gigih melaksanakan tugas dan profesi sebagai guru, pasangan Mudjija dan Sudarmi juga telah banyak melakukan pengembangan kehidupan masyarakat dan menjadi suri tauladan kepada kehidupan rumah tangga pada khususnya serta kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang baik. Di antara penghargaan yang diterima kami, baik dalam menjalankan karier sebagai guru, maupun menjalankan kehidupan rumah tangga, ada dua hal sehinnga sampai mendapatkan penghargaan tingkat nasional, yakni:

1. Menjadi Guru Teladan tingkat Kecamatan, Kabupaten, Propinsi sampai Tingkat Nasional tahun 1987. Di tingkat nasional mendapatkan kehormatan dengan menerima Piagam Penghargaan dari  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Menteri Dalam Negeri RI dan dari Ibu Kepala Negara.

2. Telah berhasil menjadi Peserta KB Lestari dengan mendapatkan penghargaan dari Presiden RI, Menteri Kesehatan/Kepala BKKBN.

Merintis Kegiatan dan Pembangunan Masyarakat 
Sebagai teladan dan pemuka masyarakat, Mudjija dan suami melakukan beberapa rintisan kegiatan pembangunan, di antaranya:


1. Merintis Pembangunan Masjid Al Ma’wa Dusun Putat II, Kecamatan Patuk Gunungkidul.
Awal mula berdirinya masjid adalah bagian dari kesadaran jamaah yang pada waktu belum berdirinya masjid tersebut senantiasa menggunakan bagian rumah limasan keluarga saya sebagai tempat salat berjamaah laksana masjid bagi para jamaah Dusun Putat. Rumah tersebut digunakan untuk fungsi masjid selama kurang lebih 9 tahun dan pada akhirnya sejak tahun 1985 masyarakat Dusun Putat II bersama-sama sepakat untuk membangun Masjid Al Ma’wa yang berlokasi 15 meter dibagian sebelah rumah keluarga kami yaitu di pinggir jalan raya Jogja-Wonosari Km  23 yang sekarang menjadi sentral kegiatan keagamaan masyarakat Dusun Putat II.

2. Merintis Koperasi CU Marsudi Mulyo yang sekarang bernama KSP Kopdit Marsudi Mulyo di Jl JogjaWonosari Km 23
“Dalam pemikiran keluarga kami,” kata Sudarmi, “guna peningkatan kesejahteraan warga terutama bagi masyarakat Dusun Putat II, diperlukan adanya suatu lembaga keuangan yang sehat salah satunya berupa koperasi sebagai wadah usaha bersama. Oleh karenya pada tahun 1982 bersama beberapa teman, saya bersepakat membentuk usaha ekonomi simpan pinjam Koperasi Kredit Marsudi Mulyo dimana embrionya berasal dari kelompok pengajian yang saya pimpin dan kelompok sinoman Dusun Putat II dengan modal awal Rp. 10.000,- dengan anggota 24 orang.’

Secara demokratis sebagaimana AD/ART Koperasi, Mudjija mulai tahun 1982-1986 periode I dan periode II tahun 1986-1989 dipilih menjadi wakil ketua. Sejak periode III sampai Periode ke VI yakni mulai tahun 1989-2001 dipercaya sebagai nahkoda dalam koperasi tersebut. Sejak berdiri yakni tahun 1982-1995 koperasi tersebut berkantor di rumah mereka, kemudian setelah membangun gedung sendiri tahun 1996 koperasi berpindah lokasi. Sebagai aset koperasi yang dimiliki sekarang telah mencapai Rp 10 milyar lebih dengan anggota kurang lebih sebanyak 2.786 orang yang tersebar hampir di seluruh Kabupaten Gunungkidul.

3. Merintis Berdirinya PAUD
Berlatar belakang dari keprihatinan masih banyaknya anak-anak balita dan belum adanya lembaga pendidikan yang memfasilitasi mereka, maka Sudarmi mengajak ibu-ibu PKK Desa Putat untuk mendirikan PAUD dan sepakat diberi nama “SPS PAUD Nusa Indah” yang merupakan PAUD pertama di Desa Putat. Agar kegiatan ini berjalan sinergis dengan kegiatan lintas sektor, maka sejak tahun 2014 kegiatan kelompok tersebut sudah terpadu dengan kegiatan Kelompok BKB dan Posyandu, di mana sebelumnya kegiatan Kelompok BKB dan Posyandu telah dilaksanakan dirumah saya dan saya juga merangkap sebagai pengurus kegiatan kelompok tersebut.

Dalam menunjang kegiatan belajar mengajar, kelompok BKB- PAUD-Yandu ini beberapa kali memperoleh dana kelembagaan baik dari APBN maupun APBD yang dipergunakan untuk melengkapi Alat Permainan Edukatif (APE). Adapun dukungan sarana dan prasarana berasal dari program PNPM Mandiri.

4. Merintis Penghijauan Lingkungan
“Disela-sela kesibukan kegiatan dinas dan kemasyarakatan, saya memanfaatkan tanah pekarangan dan ladang seluas 5.200 M2 untuk lahan penghijauan. Sebelumnya tanah seluas itu gersang dan kurang terawat. Semenjak tahun 1975, tanah tersebut ditanami dengan berbagai macam pohon, tanaman keras seperti jati, mahoni, sonokeling, kelapa, akasia dan sengon serta tanaman buah-buahan seperti rambutan, durian, kakao, pisang, duku, nangka, mangga, alpukat dan mlinjo. Di samping tanaman-tanaman tersebut, keluarga juga menanam tanaman obat keluarga, misalnya jahe, lengkuas, kencur, temulawak, temugiring, temuireng, sirih hijau, sirih merah, binahong, mahkota dewa, lada, lidah buaya, dan tanaman hias seperti kuping gajah, kol palem, anggrek, tapak dara, lidah mertua, gelombang cinta dan lain-lain. Pola ini ternyata menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya sehingga sekarang Dusun Putat II Kecamatan Patuk menjadi wilayah ijo royo-royo, baik oleh tanaman keras, bauah-buahan maupun tanaman obat keluarga,” papar Sudarmi.

Melaksanakan Haji dan Umroh
“Alhamdulillah,” kisah Mudjija, “beberapa tahun yang lalu kami termasuk hamba Allah yang mendapatkan panggilan-Nya berangkat ke tanah suci melaksanakan Rukun Islam yang ke 5 (haji). Dan tahun-tahun berikutnya melaksanakan ibadah umrah. Hal ini merupakan tonggak kenikmatan bathin kami dalam membina rumah tangga yang diawali penuh dengan keterbatasan ekonomi. Allah memberikan jalan melaksanakan ibadah haji dan umrah, disela-sela kami membiayai studi anak-anak di perguruan tinggi.”

Pengalaman Kiat-kiat Mengatasi Kemelut 
Dalam keluarga tentu banyak kemelut. Hal itu juga dialami Mudjija dan istri. Tetapi, mereka punya tips untuk mengatasinya. Jika kemelut dalam keluarga terjadi, maka ada dua cara untuk jadi solusi. Pertama, diadakan musyawarah dalam keluarga sehingga tercipta suasana saling menerima, saling menyadari, saling mengendalikan diri, musyawarah disepakati dan dilaksanakan, selanjutnya diupayakan jangan sampai terulang kembali.
Kedua, digugah hati semua anggota keluarga untuk segera saling menyadari, bersama-sama mengulurkan tangan untuk bermusopahah dengan ucapan permintaan maaf dilanjutkan berwudlu lalu sujud syukur dan beristigfar.

Jika kemelut itu terjadi dengan keluarga lain, maka beberapa tipsnya, menurut Mudjija, al:
a. Masalah diteliti dan ditanyakan secara kekeluargaan; b. diadakan musyawarah untuk memecahkan permasalahannya (diadakan konsultasi, tanya jawab seperlunya); c. diajak bersama-sama menyadari dan saling memaafkan, tenggang rasa yang baik secara islami; d. hasil musyawarah dijalankan bersama dengan sebaik-baiknya; dan e. berdoa, berwudhu, sujud syukur, istigfar dan bermusofahah dengan hati yang ikhlas.


*** 
Berikut ini, daftar penghargaan dan pengalaman organisasi Mudjija dan/atau istri:
1. Penghargaan 
  • Ketua KPPS Dalam Pemilu dari Mendagri Tahun 1981 
  • Guru Teladan Nasional dari Mendikbud RI I Tahun 1982
  • Kirab Remaja Nasional dari Yayasan Tiara Tahun 1990
  • Seminar Seni Tradisional Dan Kontemporer dari Dirjen Pariwisata Tahun 2001
  • Sarasehan Pelestarian Goa Bersejarah dari Menteri Bupar Tahun 2003
  • Pengurus PGRI dari PB PGRI Tahun 1985
  • Juara II Pidato Bahasa Jawa dari PGRI Propinsi Tahun 1990
  • Juara I Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Propinsi dan Nasional Tahun 2011

2. Pengalaman organisasi
  •  Sekretaris Cabang PGRI Patuk Tahun 1982 – 1985
  • Ketua Kopdit Marsudi Mulyo Putat Tahun 1982 – 2001
  •  Pengurus LMD Desa Putat Tahun 1985 – 2000
  •  Pengurus Puskopdit DIY 1999 – 2007
  •  Ketua I Ranting PWRI Kecamatan Patuk Tahun 2011 – 2016
  •  KMT Abdi Dalem Kraton  Tahun 2006
  •  Wakil Ketua BPD Putat Tahun 2007 – 2011
  •  Koord. Musium Dewan Kebudayaan Gunungkidul Tahun 2009 – 2014
  •  Ketua Pengawas Puskopdit DIY Tahun 2011 – 2014
  •  PPK Kecamatan Patuk Tahun 2010
  •  Badan Penasehat Pimpinan Cabang Muhammadiyah Patuk Tahun 2011 – 2015
  •  Ketua KPRI Guru Tahun 1989 – 1991
  •  Pimpinan Dekopinwil DIY periode tahun 2004 – 2009. 

(Drs Tri Anggoro & Drs Jumadal, PKB Patuk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *