Rabu, 16 Oktober silam, acara “Ruang Konsultasi Remaja” Handayani Adhiloka 99.9 FM, Gunungkidul, berlangsung seru, karena mengangkat tema: GenRe Milenial; Kembangkan Bakatmu, Raih Masa Depan Gemilang! Yang jadi pertanyaan, siapa yang menemani Asar Janjang Lestari, SPsi, MAP (pengasuh tetap acara) hari itu? Siapa dia remaja yang penuh pesona karena sarat talenta dan prestasi, dan begitu renyah nan lancar menyampaikan pandangan-pandangannya seputar dunia remaja milenial? Dialah Handaru Restu Tadarusman.
Nah, untuk menjawab rasa penasaran publik, belum lama ini tim Cahaya Keluarga menyambangi rumahnya di Bendungan, Karangmojo, untuk menggali lebih dalam lagi tentang profil pribadinya, pengalaman-pengalamannya, prestasi-prestasinya, agar bisa di-share ke pembaca Cahaya Keluarga, agar bisa menginspirasi yang lain, menularkan virus-virus positif kepada publik luas, untuk kemudian bahu-membahu bersama-sama peduli membangun bangsa.
Untuk profil atau biografi sekilas, bisa pembaca lihat di bagian lain rubrik ini. Pembaca bisa cermati sendiri. Dalam pertemuan itu, redaksi Cahaya Keluarga menanyakan pengalaman atau pandangan Ndaru, begitu panggilan akrabnya, tentang sejumlah isu seputar remaja.
Konselor Sebaya
Saat ditanya tentang PIK-R, Ndaru menyampaikan pandangannya yang positif. “PIK Remaja bagi saya,” katanya, “adalah wadah yang sangat tepat untuk anak muda di era saat ini. Saya merasa beruntung dipertemukan dengan PIK Remaja lebih awal. Bagi saya PIK-R merupakan sebuah wadah dari kegiatan kaum-kaum muda yang sedang mengalami perubahan emosional yang  sangat luar biasa. PIK-R juga merupakan wadah anak-anak remaja untuk berbagi suka maupun duka. Sebagai kader PIK Remaja, saya merasa bangga sekali karena secara tidak langsung saya ditunjuk sebagai konselor sebaya. Di mana, sebagai konselor sebaya saya dituntut untuk mampu memecah segala permasalahan yang terjadi pada masa remaja di setiap orang yang datang atau membutuhkan bantuan. Menjadi konselor sebaya bukanlah hal yang mudah. Sebelum seorang konselor sebaya itu mampu untuk memecahkan masalah yang bukan untuk diri sendiri, seorang konselor harus mampu untuk mengenal diri sendiri dan harus memiliki jati diri yang menjadikan seorang konselor sebagai publik figur yang dianggap mampu untuk memberikan solusi dari permasalahan remaja yang sering dialami. Berkat dukungan banyak pihak, saya memutuskan untuk menerima amanah sebagai konselor sebaya. Namun sebagai konselor sebaya, saya juga membutuhkan sosok konselor sebaya untuk berbagi cerita.”
Dimas Diajeng Gunungkidul
Pada 2019, kisah Ndaru, dia memiliki progres untuk mengeksplor jati diri dan beranjak untuk langkah lebih maju lagi. Pada saat itu Ndaru mendaftar ajang “Pemilihan Dimas Dajeng Gunungkidul 2019”. Dalam masa berproses menjadi finalis “Dimas Diajeng Gunungkidul”, Ndaru menemukan banyak sekali orang-orang hebat yang mampu berbagi pikiran dan membuka pandangan saya tentang arti sebuah proses. “Dimas Diajeng” juga memberikan ilmu yang sangat besar manfaatnya untuk pemuda Gunungkidul agar dapat memberikan segala inovasi dan kreativitas anak muda guna memajukan Gunungkidul terutama pada sektor pariwisata dan budaya. “Pada dasarnya yang saya cari adalah keinginan saya untuk mengetahui seberapa jauh saya bisa melangkah dalam ajang ini. Hal itu perlu sekali dilakukan manusia sebagai tolok ukur pencapaian diri sehingga lebih bisa menilai diri sendiri dalam beberapa hal. Dimas Diajeng Gunungkidul juga membuat saya untuk seutuhnya menjadi diri sendiri dalam bentuk yang terbaik. Pada Pemilihan Dimas Diajeng Gunungkidul 2019 saya bersyukur diberi amanah untuk mengemban predikat sebagai Dimas Berbakat dan juga Dimas Gunungkidul Harapan II 2019. Sebagai Konselor sebaya atau Kader PIK Remaja, saya sangat terbantu dengan keikutsertaan saya dalam ajang Pemilihan Dimas Diajeng Gunungkidul 2019. Secara garis besar saya lebih percaya diri dalam memberikan motivasi-motivasi kepada teman-teman remaja yang sedang berproses dalam menjalani kehidupan meraka masing-masing agar menjadi remaja yang baik dalam bergaul dan menyikapi setiap permasalahan yang datang,” katanya.
PUP
Ndaru juga mengutarakan pemikiran pribadinya tentang isu pernikahan dini, yang juga menjadi permasalahan penting di Gunungkidul. Secara khusus Ndaru menekankan pentingnya PUP. “Program pendewasaan usia perkawinan (PUP) menurut saya merupakan program yang cukup bagus dilakukan oleh BKKBN dalam upaya lebih mematangkan pola pikir dan dimensi emosional sebuah keluarga baru. Di samping itu, wawasan PUP juga membuat remaja lebih siap dalam berkeluarga. Dengan PUP, remaja lebih memastikan langkah ketika kebingungan dalam merencanakan pernikahan. Kaum remaja juga dapat lebih mematangkan lagi rencana ketika sudah menginjak umur pernikahan sehingga keluarga baru yang nantinya akan terbentuk bisa lebih siap dan lebih harmonis tentunya. PUP secara tidak langsung dapat mencegah remaja mengalami kehamilan di usia yang belum cukup matang sehingga kehamilan di usia dini sedikit demi sedikit juga teratasi. Perlu adanya hentakan yang cukup keras dalam penyebaran ilmu tentang pendewasaan usia perkawinan khususnya di Gunungkidul guna mengurangi angka pernikahan dini dan juga kehamilan di usia yang belum saatnya. Selain itu, faktor ekonomi dan pergaulan sangatlah berpengaruh dalam pendewasaan usia perkawinan,” papar Ndaru.
Oleh karena itu, Ndaru menyarankan, hendaknya KIE dan penyuluhan harus mampu menembus nurani masyarakat sehingga mampu tergerak dan tersadar akan pentingnya pendewasaan usia perkawinan. Beberapa remaja atau masyarakat mungkin sudah menyadari tentang pendewasaan usia perkawinan, namun yang jadi masalah biasanya adalah kebingunan ketika harus memulainya dari mana. Jawabannya adalah mulai dari diri sendiri. Ketika PUP sudah tertanam di dalam nurani, akan timbul gejolak kebutuhan sosial yakni rasa ingin berbagi. Maka dari itu, setelah diri sendiri sudah memahami ihwal PUP, mulailah kita untuk berbagi ilmu tersebut kepada orang-orang terdekat seperti keluarga, kerabat, dll.
Menurut pandangan Ndaru, pengetahuan tentang PUP di Gunungkidul perlu adanya sedikit perubahan strategi dalam penyebarannya. Di era saat ini, sasaran KIE (maksudnya: remaja) yang nantinya akan dituju cenderung lebih mempercayai bahwa mereka bisa melihat bukti nyata seorang publik figur, tokoh, panutan, yang dapat mengimplementasikan PUP secara nyata. Ketika remaja dapat melihat secara riil hasil dari sesosok publik figur, tokoh, yang mampu menerapkan PUP, besar kemungkinan kesadaran remaja menjadi muncul dan tumbuh tentang PUP. Dalam hal ini, seorang konselor sebaya dapat masuk dalam kategori public figure yang dapat mendeskripsikan ilmu dan serta mengimplementasikan PUP.
Triad KRR
Soal pernikahan dini, seks bebas, penyalahgunaan narkoba, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga ini juga ikut menyampaikan opininya. “Kebanyakan pelaku dari kasus-kasus tersebut adalah kaum remaja yang sedang tersesat dalam pendewasaan diri,” kata Ndaru. “Maka, mari kita sadari bahwa hal-hal tersebut dapat merusak bangsa ini dari dalam. Kita sebagai kekuatan pengharum bangsa semestinya menghargai perjuangan para pahlawan bangsa dengan mengembangkan kreativitas dan inovasi yang dinanti-nanti oleh rakyat. Mulai dari diri sendiri berkaca bahwa kita sebagai generasi muda tidak ada yang terlahir buruk. Semua memiliki kelebihan masing-masing yang dianugerahkan oleh Tuhan. Jangan kita kotori anugerah itu dengan seks bebas bahkan narkoba. Seks bebas hanyalah kenikmatan sesaat yang dapat membuat penyesalan selamanya. Narkoba adalah sensasi yang nikmat yang akan menyengsarakan kita setelahnya.”

Sebelum menutup perbincangan, pemilik kanal YouTube, FAHABI co, ini berharap kiranya makin banyak remaja Gunungkidul yang kelak akan manusia-manusia luar biasa, manusia yang memiliki banyak talenta yang dapat memajukan bangsa ini. Dan untuk menuju ke sana, kita perlu memaksimalkan pendidikan mereka, serta menghindarkan mereka dari pernikahan dini. “Saya berpesan kepada remaja, jangan terlena dengan kebebasan pergaulan. Kita sebagai remaja jangan ikut campur dengan urusan di luar jangkauan kita di luar sana, yang mungkin bisa menjerumuskan kita dalam roda masalah. Mari menjadi remaja yang fokus belajar dulu. Tidak hanya sampai SMA, syukur lanjutkan kuliah. Mari kita awali dari diri kita masing-masing sebagai remaja yang berpendidikan serta punya etika dalam bergaul. Stop judge someone, be aware with your self!” pungkas Ndaru.(*) [Tim Cahaya Keluarga]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *