Oleh: Ir Sihana Yuliarto
(Ketua DPD IPeKB DI Yogyakarta)

 Pada awal tahun 2019, stunting merupakan isu yang banyak diperbincangkan, sekaligus banyak instansi Pemerintah yang menggelontorkan anggaran programnya untuk mengatasi masalah stunting, tak terkecuali Perwakilan BkkbN Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui anggaran BOKB yang diarahkan untuk mengatasi dan mengantisipasi agar kondisi stunting dapat peningkatannya dapat dikendalikan.  Untuk saat ini 2 kabupaten yang menjadi sasaran  anggaran program untuk mengatasi stunting, yaitu Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Bantul.

Ada beberapa hal yang melatar belakangi sehingga stunting merupakan tema yang kami angkat, antara lain:

1. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan penurunan prevalensi stunting di tingkat nasional sebesar 6.4 persen, selama periode 5 tahun, yaitu dari 37.20 persen (2013) menjadi 30.80 persen (2018). Sedangkan untuk balita berstatus normal terjadi peningkatan dari 48.60 persen (2013 menjadi 57.80 persen (2018).

2. Global Nutrition Report 2016 mencatat, bahwa stunting di Indonesia berada pada peringkat 108 dari 132 negara. Dalam laporan sebelumnya, Indonesia tercatat sebagai salah satu dari 17 negara yang mengalami masalah ganda gizi, baik kelebihan maupun kekurangan gizi. Di kawasan Asia Tenggara, prevalensi stunting Indonesia merupakan tertinggi kedua setelah Kamboja.

3. Hasil Riset Bank Dunia menggambarkan kerugian akibat stunting mencapai 3-11 persen dari Pendapata Domestik Bruto (PDB). Dengan nilai PDB 2015 sebesar Rp 11.000 trilliun, kerugian ekonomi akibat stunting di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 300 trilliun sampai Rp 1.210 trilliun per tahun.

4. Upaya membentuk/menghadirkan Generasi Emas Indonesia di masa yang akan datang.

Apa yang dimaksud stunting
Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahin (balita), yang diakibatkan karena kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan.
Anak tergolong stunting apabila penjang atau tinggi badannya berada dibawah minus dua deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya.
Stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1000 HPK disamping berisiko pada hambatan pertumbuhan fisik juga menyebabkan hambatan kognitifnya, yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan.
Dampak yang ditimbulkan stunting
1.      Kognitif lemah dan psikomotorik terhambat

Anak yang tumbuh dengan stunting akan mengalami masalah perkembangan kognitif dan psikomotorik. Jika proporsi anak yang mengalami kurang gizi, gizi buruk, dan stunting besar dalam suatu wilayah, maka akan berdampak pula pada proporsi kualitas sumber daya manusia yang akan dihasilkan. Artinya, besarnya masalah stunting akan berdampak pada kualitas generasi di masa yang akan datang.

2. Kesulitan menguasai sains dan berprestasi dalam olahraga

Anak-anak yang tumbuh dan berkembang tidak proporsional ini, pada umumnya akan mempunyai kemampuan secara intelektual di bawah rata-rata dibandingkan anak yang tumbuh dengan baik. Generasi yang tumbuh dengan kemampuan kognitif dan intelektual yang kurang akan lebih sulit menguasai ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi kerena kemampuan analisis yang lemah.

Pada saat yang sama, generasi yang tumbuh dengan kondisi kurang gizi dan mengalami stunting tidak dapat diharapkan untuk berprestasi di bidang olah raga dan kemampuan fisik. Dengan demikian, proporsi kurang gizi dan stunting pada anak adalah ancaman bagi prestasi dan kualitas generasi di masa depan.

3. Lebih mudah terkena penyakit degeneratif

Kondisi stunting tidak hanya berdampak langsung terhadap kualitas intelektual generasi masa depan, namun juga menjadi faktor tidak langsung terhadap penyakit degeneratif (penyakit yang muncul seiring bertambahnya usia).

Berbagai studi membuktikan bahwa, anak-anak yang kurang gizi pada waktu balita, kemudian mengalami stunting, maka pada usia dewasa akan lebih mudah mengalami obesitas dan terserang diabetes melitus.

Seseorang yang dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya mengalami kekurangan gizi dapat mengalami masalah pada perkembengan sistem hormonal insulin dan glokagen pada pankreas yang mengatur keseimbangan dan metabolisme glukosa. Sehingga, pada saat usia dewasa, jika terjadi kelebihan intake kalori, keseimbangan gula darah lebih cepat terganggu, dan pembentukan jaringan lemak tubuh (lipogenesis) juga lebih mudah. Dengan Demikian, kondisi stunting juga berperan dalam meningkatkan beban gizi ganda terhadap peningkatan penyakit kronis di masa depan.

4. Sumber Daya Manusia berkualitas rendah

Kurang gizi dan stunting saat ini, menyebabkan rendahnya kualitas sumber daya manusia usia produktif. Masalah ini selanjutnya juga berperan dalam meningkatkan penyakit kronis degeneratif saat dewasa.

Karena itu, semua pihak (para orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan parlemen) untuk ikut berperan dalam menyelesaikan permasalahan gizi anak dan stunting tersebut. Perhatian terhadap Hari Gizi Nasional bukan semata seremonial, tetapi merupakan sebuah bentuk kewaspadaan terhadap kondisi yang terjadi saat ini, dan kepedulian masa depan bangsa.
Pemerintah punya peran penting untuk mempercepat mengurangi jumlah penderita gizi buruk dengan kebijakan dan anggaran yang memadai.
Meskipun stunting berisiko mengganggu tumbuh kembang balita, bukan berarti tidak dapat dicegah. Berikut strategi yang dapat dilakukan untuk pencegahan stunting.
1.      Penuhi Kebutuhan Gizi selama Masa Kehamilan
Pencegahan terhadap Stunting perlu dilakukan sedini mungkin yaitu dimulai saat ibu tengah mengandung. Sangat disarankan agar ibu hamil memastikan kebutuhan gizinya terpenuhi, terutama asupan zat besi. Untuk itu, sebaiknya di masa kehamilan ibu secara rutin dapat mengkonsumsi makanan bergizi, dan apabila diperlukan mengkonsumsi suplement zat besi, tentunya konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Ibu hamil disarankan untuk cek kesehatan secara rutin ke bidan atau dokter, guna memastikan kehamilannya dalam kondisi sehat.

2. Beri Asi Eksklusif Hingga Balita berusia 6 bulan
ASI mempunyai peran penting dalam mencegah stunting, karena ASI memiliki kandungan gizi makro dan mikro yang dapat mencukupi kebutuhan balita dibawah usia 6 bulan. Kandungan protein dan kolostrum di dalam ASI dapat membantu memperkuat daya tahan tubuh balita terhadap penyakit. Ibu yang melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IDM) di satu jam pertama setelah kelahiran memiliki resiko stunting lebih rendah, ini menunjukkan perlunya proses IMD.

3. Pastikan Asupan Gizi Balita 6 bulan ke Atas Terpenuhi dengan MP ASI
Setelah berusia 6 bulan, kebutuhan gizi balita tentunya semakin bertambah, yang dengan ASI saja belum mencukupi untuk memenuhi asupan gizi hariannya. Oleh sebab itu diperlukan Makanan Pendamping ASI (MP ASI) yang mengandung zat gizi makro dan mikro untuk membentu kurangi resiko stunting.

4. Pantau Pertumbuhan Balita
Anak yang mengalami stunting, secara fisik memiliki postur tubuh yang lebih pendek dari anak seusianya Karena itu, penting bagi ibu untuk memantau pertambahan tinggi dan berat badan Balita secara rutin di Posyandu atau klinik khusus anak. Tujuannya agar ibu dapat mengetahui lebih awal apakah Balita mengalami gangguan pertumbuhan.

5. Jaga Kebersihan Lingkungan
Hal yang juga perlu diperhatikan untuk mendukung tumbuh kembang balita, kondisi kebersihan lingkungan harus selalu dijaga. Ini diupayakan agar kuman penyebab penyakit tidak dapat berkembang biak dan kesehatan selalu dapat terjaga. 

Dengan melihat dampak dari stunting yang dapat menghambat dalam upaya mencetak generasi masa depan yang berkualitas, tidak ada pilihan lain, perlu penerapan strategi untuk pencegahan stunting. Peran keluarga, masyarakat, pemerintah dan instansi yang kompeten sangat diperlukan. Dengan penanganan secara terpadu dan dengan strategi yang tepat, harapannya itu semua dapat menurunkan angka stunting di Daerah Intimewa Yogyakarta, dan generasi berkualitas pun terwujud.(*)
DAFTAR PUSTAKA
Empat Dampak Stunting bagi Anak dan Negara Indonesia, Hardisman Dasman, Universitas Andalas, Januari, 2019
Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) periode 2018-2024, Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan manusia dan Kebudayaan, 2018
Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi, Youth 4 Health, April 2018
Pola Asuh Bisa Cegah Stunting, Fuji Rahman, 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *