Sosok Kartini pasti tidak akan lepas dari ingatan setiap kaum perempuan di Indonesia, karena jasanya sangat dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dalam kesetaraan gender.  Gender yang dimaksud adalah bagaimana perempuan juga dapat berperan dalam bidang  sosial, ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan, politik dan setiap bidang kehidupan tanpa dibedakan. Perempuan juga memiliki hak yang sama dalam mengembangkan potensi diri dalam meningkatkan kehidupan keluarganya menjadi lebih baik. Perjuangan Kartini masa kini tentunya tidak dapat disamakan dengan perempuan zaman dahulu. Perempuan saat ini dapat menjadi sosok yang inspiratif bagi lingkungannya dengan memberikan kemanfaatan bagi orang-orang disekitarnya terutama keluarganya.


Suginem, atau lebih familier dengan nama bekennya “Mbak Jebrik”, adalah sosok perempuan paruh baya yang berusia 52 tahun. Ia terlahir dari keluarga yang kurang mampu dengan kondisi lingkungan geografis dari dusun berkategori terpencil kala itu, tepatnya di Dusun Karanggebang, Desa Sumberwungu, Kecamatan Tepus. Terlahir enam bersaudara dengan kondisi keluarga yang pas-pasan tidak membuat Suginem menjadi sosok yang rapuh. Beruntung bagi Suginem karena memiliki saudara yang peduli dengannya dengan membantu biaya sekolah saat itu, sehingga bisa mengenyam bangku SMA yang oleh masyarakat Padukuhan Karanggebang kala itu sudah merupakan sebuah keniscayaan. Dari keenam saudaranya, hanya Suginemlah yang dapat menikmati manisnya pendidikan sampai dengan tingkat SLTA, karena saudara yang lain bahkan ada yang tidak tamat sekolah dasar.
Tahun 1990, di usia 25 tahun, Suginem mengakhiri masa lajangnya dan menikah dengan Adung, lelaki asal Jawa Barat, hasil perkenalanya saat di perantauan. Tahun 1991 lahirlah anak pertamanya yang bernama Abdul Rosyid, dan di sinilah awal perjalanan hidup penuh liku ia lalui. Suami yang tetap bekerja sebagai pekerja serabutan di Jakarta tak mampu lagi menopang biaya hidup keluarga, sampai akhirnya lahir anak keduanya yang bernama Rifai Abdul Qohar. Masa sulit semakin dialami oleh Suginem karena harus membiayai kedua buah hatinya. Akhirnya Suginem memutuskan untuk menjadi pedagang barang bekas atau “rongsok” untuk mencoba mengais rezeki bagi kelangsungan hidup keluarganya.
Awal memulainya hati Suginem mengalami perang batin antara khawatir tidak berhasil, malu, dan kasihan pada anak-anaknya. Namun semua bisa ia tepis kala melihat wajah anak-anaknya dan merajut masa depan bagi anak-anaknya kelak. Saat menjalani usaha ini, Suginem sering meneteskan air mata merasa sedih karena harus berjalan dengan kedua anaknya mencari barang bekas. Setelah beberapa tahun menjalani peran sebagai penjual barang bekas dan hasilnya tidak maksimal karena hanya ia jalani dengan jalan kaki dan melihat peluang yang lain, akhirnya memutuskan untuk menjadi pedagang sayur keliling.
Saat itu belum ada pedagang sayur keliling sehingga pendapatan Suginem mampu membantu mencukupi kebutuhan  anak-anaknya untuk biaya makan dan biaya sekolah. Suami pun memutuskan untuk pulang kampung dan membantu Suginem berjualan keliling.
Bukan hal yang mudah bagi kebanyakan orang untuk bisa berdagang sayur keliling tanpa fasilitas kendaraan seperti Suginem. Ia harus belanja sayuran jam 02.00 WIB malam ke pasar yang berjarak 7 km dari rumahnya kemudian menjajakannya di pagi hari dengan berkeliling di wilayah padukuhan tetangga yang jaraknya 2-4 km dari rumahnya. Semangat ibu Suginem inilah yang juga mengilhami anak-anaknya untuk tetap bersemangat melanjutkan sekolah demi mengejar cita-cita mulia keluarga yaitu anak harus lebih tinggi pendidikannya dibandingkan orangtuanya.
Kehidupaan Suginem dengan berjualan sayur keliling memang tidak serta merta membuat kehidupan Suginem terbebas dari masalah ekonomi yang membelitnya, karena kebutuhan hidup dari tahun ke tahun. Tantangan untuk menjadikan anak-anaknya memiliki kondisi yang lebih baik dibandingkan dirinya ia rasakan semakin berat, namun itu tidaklah menurunkan semangat Suginem untuk terus berupaya. Hasil dari jualan sayur kelilingnya ia sisihkan sebagian dan setelah terkumpul Ia belikan kambing untuk cadangan biaya pendidikan anak-anaknya. Awalnya Ia membeli anak kambing karena uang yang terkumpul tak mampu membeli kambing dewasa.
Suginem mendidik anak-anaknya dengan disiplin dan tanggungjawab. Dia membiasakan anak-anaknya bekerja keras sejak dini dan pantang menyerah. Semua anak-anaknya setelah sekolah diberi tanggungjawab untuk mencari rumput di mana memang anak seusia mereka layaknya anak yang lain setelah sekolah bermain-main dengan teman sebayanya. Tetapi anak-anak Suginem juga tidak melewati masa bermainnya dengan bekerja saja, mereka sudah dapat mengatur waktu dengan mengambil rumput lebih awal sehingga masih dapat bermain dengan teman sebayanya di kampung.
Abdul Rosyid anak pertamanya dikaruniai kecerdasan otak yang lebih dibandingkan dua saudara lainya. Sejak SD ia menjadi juara kelas, kemampuan di bidang akademis dan keagamaan juga sangat baik dan sering mewakili perlombaan di tingkat kecamatan bahkan sampai tingkat kabupaten. Dan ia diterima sebagai siswa SMK N 1 Wonosari. Karena jarak antara sekolah dengan rumah tempat tinggalnya yang cukup jauh yaitu 20 km dan tidak ada angkutan yang masuk sampai ke wilayah Padukuhan Karanggebang, maka ia pun harus ngekos di Kota Wonosari.  Karena tidak ada fasilitas kendaraan dikeluarga ini, setiap senin pagi pukul 04.30 ayahnya mengantar Abdul Rosyid untuk mendapatkan angkutan dengan jalan kaki sejauh 4 km bahkan kadang-kadang sampai 7 km jalan kaki baru mendapatkan angkutan. Ini dijalani selama 3 tahun. Kegigihan orangtua, gayung bersambut dengan semangat sang anak sehingga menjadi sebuah energi yang luar biasa untuk menumbuhkan semangat juang.
Kondisi serba kekurangan tidak mematahkan semangat Suginem juga Abdul Rosyid untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dengan modal “keyakinan” bahwa rezeki akan datang jika anak dan orangtua memiliki semangat yang kuat, Abdul Rosyid pun mengikuti seleksi diperguruan tinggi Negeri di Yogyakarta, namun nasib belum berpihak padanya dan dia melanjutkan kesalah satu Universitas swasta yaitu UAD dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Perjuangan tidak berakhir sampai disini, biaya kuliah yang tidak sedikit semakin membuat Ibu suginem tertantang untuk terus berusaha dia pun lebih bersemangat lagi dalam bekerja baik berdagang sayur keliling, mengembangkan ternak kambingnya dan bertani. Kambingnya mulai berkembang dan dapat untuk membeli seekor sapi.
Selama kuliah Abdul Rosyid yang memang sudah diajari sejak kecil dengan hidup sederhana dan kerja keras, dia tinggal disebuah masjid wilayah Pakel Yogyakarta dengan mengurusi kegiatan masjid sehingga dapat mengurangi beban biaya kos, selain itu dia juga sambil bekerja di warnet untuk dapat membantu biaya makan sehari-hari. Kondisi ini tidak lantas membuat Abdul Rosyid menjadi minder, dia justru aktif dikegiatan keorganisasian yang ada di kampusnya. Setelah lulus kuliah Abdul Rosyid kemudian bekerja di sebuah BMT yang cukup bonafid di Yogyakarta kemudian menikah dan mampu membiayai kehidupan keluarganya secara mandiri. 
Anak kedua dari Ibu Suginem tak jauh beda dari anak pertama, memiliki semangat yang luar biasa. Pada saat sekolah di sebuah SMK di Kecamatan Tepus dia hanya menggunakan sepeda onthel, padahal jarak yang ditempuh mencapai 12 km dari rumah. Tetapi itu tidak membuat patah semangat dalam belajar, meskipun secara kecerdasan tidak seperti kakaknya. Setelah lulus dari SMK ia tak segera melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena pada waktu itu kakaknya belum selesai kuliah dan melihat kondisi orangtuanya jelas tidak mampu membiayai. Ia pun memutuskan untuk bekerja di perusahaan perakitan motor di Karawang. Selama dua tahun bekerja gajinya ia belikan sapi untuk biaya saat dia melanjutkan kelak dan sepeda motor untuk fasilitas bagi keluarganya. Setelah kakaknya selesai kuliah, dia kemudian melanjutkan kuliah disebuah perguruan tinggi swasta dengan mengambil jurusan Psikologi untuk kelas karyawan agar dia bisa tetap sambil bekerja untuk memenuhi kebutuhan biaya kuliahnya. Dia bekerja sebagai tenaga relawan sebuah lembaga bisnis, selain itu semangat dagang Suginem telah menjiwai anak keduanya ini dengan menjalankan bisnis jual beli motor bekas secara online. Penghasilannya pun lumayan untuk mencukupi kebutuhan kuliah dan membantu keuangan orangtua. Setiap bulan rata-rata penjualan 10 sampai dengan 20 unit sepeda motor bekas.
 Demikianlah, kerja keras juga telah menjiwai anak ketiga dari Ibu Suginem ini, kadang-kadang jika bertepatan dengan hari minggu atau libur anak ketiganya ini membantu berdagang sayur keliling dan mencari rumput untuk
Perlahan perekonomian Suginem membaik. Ternaknya kini berkembang menjadi 20 ekor kambing dan seekor sapi. Pada 2014 sudah mulai sedikit demi sedikit merenovasi rumahnya menjadi bangunan yang permanen dengan luas yang sangat memadai. Prinsip hidup dari Suginem yang begitu isnpiratif adalah: “Bondho kui ana ilange, tapi yen ilmu ora bakalan ilang,jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, “harta itu bisa hilang, tetapi ilmu tidak akan pernah hilang. Prinsip hidup ini yang menjadi cambuk bagi Suginem untuk terus memotivasi dirinya dan anak-anaknya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dan prinsip hidup yang terpatri kuat ini membuat Suginem bisa melewati cibiran dari beberapa orang yang pesimis kalo mampu menguliahkan anak-anaknya. Di wilayah tempat tinggal Suginem  kuliah menjadi sesuatu yang sangat prestisius karena hanya ada 3 keluarga yang dapat menguliahkan anaknya.  Sedangkan pitutur luhur yang dianut Suginem adalah “urip kui penting cukup, ora kudu mewah”, artinya, hidup itu yang penting cukup tidak harus mewah.

Mindset Suginem terhadap anak ialah bahwa anak adalah mutiara yang harus dijaga, memiliki anak yang taat, sayang kepada orangtua dan paham akan ilmu agama menjadi harapan bagi keluarga Suginem. Bagi dia perempuan harus berperan dalam membantu kehidupan keluarganya, karena keberhasilan keluarga bukan tanggungjawab seorang suami semata. Ia juga tidak melewatkan kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada di wilayahnya seperti arisan, pertemuan dasawisma, kerja bhakati, dan tilikan orang sakit.


Pendapat Suginem tentang Program Keluarga Berencana ialah program ini sangat baik dan sesuatu yang direncanakan dengan matang akan menghasilkan sesuatu yang optimal. Terbukti dengan pengaturan jarak anaknya yang ideal.  Selain itu, baginya, program Keluarga Berencana merupakan salah satu upaya untuk mencapai derajat kesehatan yang baik.(*) [dwi listyandari-tepus/dwiarti novitasari-wno/sabrur-girisubo]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *