Sekolah Sik, Rabi Mengko Dishik! Kalimat itu cukup singkat, tetapi mempunyai makna yang cukup mendalam. Itu kalimat yang muncul pada kegiatan Road Show Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) tahun 2017, yang diadakan di Balai Desa Kemiri, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul.

Sudah bukan rahasia lagi, kasus pernikahan dini di kabupaten Gunungkidul cukup tinggi. Walaupun secara angka masih dibawah kabupaten Bantul, namun kasus pernikahan dini diperlukan penanganan yang serius, agar peningkatannya dapat ditekan. Melihat kondisi tersebut, kecamatan Tanjungsari melalui koordinator Penyuluh KKBPK dan Penyuluh KKBPK mengadakan kegiatan Roadshow Pendewasaan Usia Perkawinan” di Balai Desa Kemiri, pada Selasa, 11 Juli 2017
Pagi itu, Selasa (11/7), di balai desa Kemiri sudah terlihat kesibukan mempersipkan sebuah pertemuan. Warga yang sebagian besar remaja mempersiapkan segala sesuatu, agar acara yang akan dilaksanakan dapat berjalan lancar sesuai harapan. Hari itu akan dilaksanakan kegiatan Roadshow Pendewasaan Usia Perkawinan yang memang disetting dari remaka oleh remaja dan untuk remaja. Semua remaja yang merupakan perwakilan dari Forum Anak Desa se kecamatan Tanjungsari, PIK Remaja Garuluku Kemadang, dan PIK Remaja Lentera Hargosari, saling bahu memhahu, mendukung suksesnya kegiatan hari tersebut.
Tepat jam 09.30 acara dimulai, yang dibuka dengan menyanyikan lagi Indonesia Raya dan Mars Keluarga Berencana, dilanjutkan dengan sambutan ucapan selamat datang dari koordinator Penyuluh KKBPK Ir. Sihana Yuliarta.
Pada acara Road Show Pendewasaan Usia Perkawinan pagi itu, akan disampaikan 3 materi antara lain dari Drs Sukis Heriyanto, MSi (Camat Tanjungsari), Drs Wijang Eka Aswarna, MSi (Kabid KB DPPPAKBPMD), dan drg Retno, M Hum (dari BPPM DIY).

Materi yang pertama disampaikan oleh Drs  Sukis Heriyanto MSi, yang mengambil tema, “Membangun Remaja yang Sehat, Cerdas, dan Ceria.”Pada materinya disampaikan bahwa, dalam upaya membentuk remaja yang sehat, cerdas dan ceria, dimulai dari keluarga. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, salah satunya pernikahan harus direncanakan. Perencanaan tersebut antara lain mencakup: 1) usia ideal menikah, 2) kesiapan mental serta fisik, 3) dan juga perlu diperhatikan tentang kesiapan secara ekonomi.
Sedangkan materi yang kedua yang disampaikan drg Retno Mhum, yang menitikberatkan bahwa remaja harus paham akan potensi yang dimilikinya. Setelah paham akan potensi dirinya, diharapkan dapat mengembangkannya, dengan melalui lembaga pendidikan baik formal maupun non formal. Dengan potensi yang sudah berkembang, dapat dijadikan modal di masa yang akan, untuk dapat meraih pekerjaan yang mapan, sehingga dapat memenuhi segala kebutuhannya karena cukup secara ekonomi.
Materi yang ketiga disampaikan oleh Drs Wijang Eka Aswarna, MSi. Beliau menyampaikan bawha program Gerenasi Berencana harus secara detail dipahami remaja, yang meliputi, 1) menjauhi seks bebas, 2) jauhi narkoba, 3) terhindar dari penyakit HIV/AIDS. Untuk mewujudjkan semua itu, perlu ada keterpaduan dalam penanganan dari segenap lintas sektor.
Pada acara Road Show Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) 2017, tidak keingggalan PIK-Remaja Garuluku Desa Kemadang ikut menyemarakkan dengan musik akustik. Lagu-lagu antara lain, Rayuan Pulau Kelapa, Yogyakarta, dan lagu lainnya. Semua lagu di aransemen cukup apik, sehingga didengarkan cukup menarik. Itu salah satu wujud potensi yang dimiliki oleh remaja, yang bisa dikembangkan, dan dengan wadah PIK Remaja segala potensi dapat dikembangkan.

Sesi terakhir, dibacakan Deklarasi Pendewasaan Usia Perkawinan, yang dibacakan oleh Riyan dari PIK Remaja Lentera Hargosari, dan Dewi dari perwakilan Forum Anak Desa Kemiri. Pembacaan ditirukan oleh segenap remaja, dan dilanjutkan pembacaan deklarasi Komitmen PUP oleh Ibu Rini dari Puskemas Tanjungsari.
Selesai pembacaan deklarasi dilanjutkan penandatangan deklarasi dari stakeholder dan segenap remaja. Dengan harapan komitmen tersebut dapat menekan kasus pernikahan yang terjadi di kecamatan Tanjungsari.


Tindak lanjut dari kegiatan Roadshow Pendewasaan Usia Perkawinan sangat diperlukan, dan karenanya diharapkan dari Pemkab Gunungkidul melalui DP3AKBPMD dapat menangkapnya melalui pelbagai program dan kebijakannya, sehingga tujuan akhir untuk menekan kasus pernikahan usia dini dapat terwujud.(*)

Sihana Yuliarta (Kontributor Tanjungsari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *